Sabtu, 17 Januari 2026

DEDIKASI GURU, INOVASI PEMBELAJARAN, KEPRAMUKAAN, PENDIDIKAN KARAKTER

Guru sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus membentuk karakter peserta didik. Makalah ini menguraikan dedikasi, inovasi, prestasi, serta pengabdian seorang guru. Dedikasi diwujudkan melalui kedisiplinan kehadiran, peningkatan kompetensi dengan menyelesaikan pendidikan magister, serta konsistensi dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Dalam bidang inovasi, pengajaran dikembangkan dengan pendekatan project-based learning, integrasi pendidikan karakter, serta pemanfaatan teknologi digital yang memperkuat literasi peserta didik. Selain itu, inisiatif “Kelas Sehat” memperlihatkan komitmen dalam membangun budaya hidup sehat dan peduli lingkungan di sekolah.

Prestasi unggulan yang diraih antara lain kelulusan program Magister Pendidikan Geografi di Universitas Siliwangi dan penghargaan Lencana Pancawarsa I dari Kwartir Daerah Jawa Barat pada tahun 2024, sebagai bentuk pengakuan atas kiprah dalam Gerakan Pramuka. Pengabdian meluas tidak hanya pada siswa, tetapi juga dalam kegiatan sosial, keagamaan, bakti lingkungan, serta kolaborasi dengan masyarakat sekitar. Keberadaan guru sebagai pembina Pramuka turut menumbuhkan kepemimpinan, kemandirian, dan jiwa sosial peserta didik.

guru yang berdedikasi tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga membangun karakter dan memberikan kontribusi nyata di lingkungan masyarakat. melalui penguatan sinergi sekolah dan masyarakat, peningkatan dukungan pemerintah terhadap pengembangan kompetensi guru, serta kolaborasi antar pendidik untuk menciptakan praktik pendidikan yang berkelanjutan.

Kata Kunci:   dedikasi guru, inovasi pembelajaran, kepramukaan, pendidikan karakter.

PENGABDIAN DAN PERAN SERTA PADA MASYARAKAT

Pengabdian saya sebagai ASN tidak hanya berhenti di ruang kelas, melainkan juga menyentuh kehidupan sosial masyarakat. Diantaranya:

1. Sebagai Pembina Pramuka

Melalui Gerakan Pramuka, saya menanamkan nilai disiplin, kemandirian, gotong royong, kepedulian sosial, dan cinta lingkungan. Kegiatan kepramukaan yang saya bimbing meliputi latihan rutin, perkemahan, bakti sosial, hingga lomba tingkat kecamatan. Pramuka menjadi wadah efektif bagi siswa untuk belajar kepemimpinan dan keterampilan hidup.

2. Kontribusi dalam Kegiatan Sekolah dan Lingkungan

Saya aktif dalam kegiatan keagamaan, bakti sosial, dan gerakan kebersihan sekolah. Saya juga mendorong siswa untuk ikut serta dalam program peduli lingkungan di sekitar sekolah, seperti penanaman pohon, pengelolaan sampah, dan gotong royong kebersihan desa.

3. Peran Serta dalam Masyarakat

Sebagai guru yang tinggal di tengah masyarakat, saya senantiasa berperan dalam kegiatan sosial, keagamaan, serta forum-forum masyarakat di lingkungan tempat tinggal. Kehadiran saya sebagai pendidik di masyarakat menjadi teladan untuk membangun sinergi antara sekolah dan masyarakat.

 

DEDIKASI, INOVASI, DAN PENGABDIAN GURU DALAM MEWUJUDKAN PENDIDIKAN BERKARAKTER

Pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia. Guru sebagai pendidik profesional memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan pembelajaran yang bukan hanya mengasah aspek kognitif, tetapi juga menumbuhkan nilai moral, spiritual, dan keterampilan hidup. Dalam konteks Aparatur Sipil Negara (ASN), peran guru semakin bermakna karena menyangkut tanggung jawab pengabdian terhadap bangsa dan negara.

Saya, Imas Siti Nurjanah, M.Pd., sejak diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil pada bulan Desember 2020, mengabdikan diri di SMPN 3 Bungbulang  Kabupaten Garut sebagai guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Meskipun jarak tempat tinggal ke sekolah cukup jauh, hal tersebut tidak mengurangi semangat saya untuk hadir, melaksanakan kewajiban, dan memberikan yang terbaik. Kehadiran bagi saya adalah bentuk dedikasi yang nyata, sebab seorang guru harus menjadi teladan konsistensi bagi peserta didik.

Selain menjalankan tugas pokok sebagai guru IPS, saya juga aktif sebagai Pembina Pramuka di SMPN 3 Bungbulang. Kepramukaan saya pandang sebagai wahana yang strategis untuk menanamkan nilai karakter, kemandirian, kepemimpinan, serta kecintaan terhadap bangsa dan lingkungan. Kiprah saya dalam gerakan Pramuka mendapat penghargaan berupa Lencana Pancawarsa I dari Kwarda Jawa Barat tahun 2024, sebagai bentuk pengakuan atas pengabdian yang berkesinambungan.

Selasa, 27 Agustus 2024

PEMERINTAH DESA CIKARANG SALURKAN BLT DD SECARA DOOR TO DOOR

Pada hari selasa tanggal 27 Agustus 2024 Pemerintah Desa Cikarang Bersama Ketua BPD Desa Cikarang yang di damping oleh Ketua TPK, babinsa, RT dan RW setampat melakukan kunjungan ke rumah warga penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa Tahun 2024 untuk penyaluran selama 6 Bulan (Juli, Agustus, September, Oktober, November Dan Desember). Meskipun sebelumnya penyaluran BLT dilakukan di Balai Desa. namun kali ini akan di salurkan secara langsung ke rumah warga penerima manfaat BLT DD Tersebut.

Langkah door-to-door ini menjadi bukti nyata tanggung jawab Pemerintah Desa beserta BPD dalam memastikan bantuan sosial tepat sasaran dan diterima dengan tepat oleh masyarakat yang membutuhkan. Dengan pendekatan langsung ke rumah warga, diharapkan bantuan yang disalurkan dapat memberikan dampak yang nyata bagi keluarga penerima manfaat BLT DD Tersebut.

Menurut Sekretaris Desa Cikarang Dalam upaya menjaga keadilan dan kesetaraan, Pemerintah Desa Cikarang terus berkomitmen untuk memastikan bahwa bantuan sosial seperti BLT Dana Desa disalurkan secara responsif transparan dan efisien.

Harapan dari Pemerintah Desa Cikarang dengan pemberian secara door to door selain bisa melihat secara Langsung kondisi warga penerima manfaat juga meminimalisir kesalahan data warga penerima manfaat BLT DD tersebut.

Hal ini dimaksudkan juga untuk mengetahui kondisi warganya karena 70 % penerima manfaat tidak memungkinkan untuk datang ke Balai Desa dengan alasan sudah lansia, ada juga yang mengalami cacat fisik. Penerima manfaat Bantuan Langsung Tunai Dana Desa Ini Sebanyak 12 warga penerima manfaat adapun besarannya sebesar Rp. 300.000/Bulan selama 6 Bulan (Bulan Juli, Agustus, September, Oktober, November Dan Desember 2024) total yang diterima oleh penerima manfaat BLT DD sebesar Rp. 1.800.000 (Satu Juta Delapan Ratus Ribu Rupiah) tidak boleh dikurangi dengan alasan apapun. Pungkas BPD Desa Cikarang. 

 


Sabtu, 17 Agustus 2024

Semarak Dirgahayu Republik Indonesia Ke-79 Desa Cikarang Kec. Cisewu Kab. Garut

Sang saka merah putih berkibar, tampak indah melambai-lambai, semangat juang terus membara, Terus Melaju Untuk Indonesia Maju. Dirgahayu Indonesiaku. MERDEKAAA!!!   

Hari kemerdekaan adalah tonggak sejarah perjuangan bangsa yang harus kita pertahankan.  Selain mempertahankan kemerdekaan, kita sebagai generasi penerus bangsa, tentunya harus mengisi kemerdekaan itu dengan melakukan hal-hal yang positif dan dapat menumbuhkan kecintaan serta semangat nasionalisme.

Merayakan kedatangan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79 pada tanggal 17 Agustus 2024, sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa ini, adalah kewajiban kami untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa pahlawan yang gigih memperjuangkan kemerdekaan kita.

Dalam perayaan HUT RI ke-79 ini warga Desa cikarang kec. Cisewu ikut memeriahkan dengan melaksanakan berbagai macam perlombaan, seperti Voli Ball, Badminton, Sepak Bolla, berbagai macam hiburan kesenian tradisional, Dll.

Kegiatan perlombaan ini dilaksanakan sebagai perwujudan rasa cinta dan semangat jiwa Nasionalisme Warga Desa Cikarang Kec. Cisewu Kab. Garut

Tujuan dalam kegiatan kali ini adalah untuk memperingati dan merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 79 pada tanggal 17 Agustus 2024, untuk mempererat tali persaudaraan sesama warga Desa Cikarang yang terbagi menjadi 3 kedusunan yaitu Dusun 1 yang di pimpin oleh kepala dusun Sdr. Hilman S. dusun 2 yang di pimpin oleh Sdr. Gopar HS dan dusun 3 yang di pimpin Sdr. Ahmad Sugandi Dalam meraih semangat juang antara anak anak hingga orang tua serta memupuk semangat kebangsaan antar generasi untuk memperkuat ketahanan nasional dalam menghadapi tantangan global.

"Dalam Acara memeriahkan kemerdekaan ini di pimpin langsung oleh Sekretaris Desa Cikarang Sdr. Herman Koswara"
Selanjutnya dalam acara memeriahkan acara kemerdekaan ini selain di Pusat Desa akan diadakan juga di setiap RW masing-masing se wilayah Desa Cikarang pungkas Sekretaris Desa Cikarang"

Kamis, 04 Mei 2023

PENDIDIKAN GURU PENGGERAK

PAKET MODUL 1 PARADIGMA DAN VISI GURU PENGGERAK


    1. MODUL 1.1  Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara

    1. MODUL 1.2  Nilai Dan Peran Guru Penggerak

    1. MODUL 1.3  Visi Guru Penggerak

    1. MODUL 1.4 Budaya Positif


PAKET MODUL 3 PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGEMBANGAN SEKOLAH


    1. MODUL 3.1  Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

    1. MODUL 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

    1. MODUL 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid

 


SERBA SERBI

 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin


Ragam Hasil Belajar

Konsep Tentang Hasil Belajar

Peningkatan Mutu Pembelajaran di Sekolah

Faktor yang Mempengaruhi Mutu Pendidikan

Konsep Mutu Pendidikan

Memilih Media Pembelajaran

Bagaimana Mengevaluasi Media Pembelajaran

Mengapa Perlu Media Pembelajaran

Apa Kriteria Dalam Memilih Media Pembelajaran

Apa Manfaat Media Pembelajaran

Macam Macam Media Pembelajaran

Apa Yang Dimaksud Media Pembelajaran

Peran Guru di Sekolah, Keluarga dan Masyarakat

Pendidikan untuk Reformasi Watak Bangsa

Guru Harus Menampilkan Kewibawaan

Perencanaan dan Pengembangan Potensi Pribadi

Kepemimpinan Efektif Untuk Manajer

Pengertian Intelegensi dan Bakat

Pentingnya Supervisi Pendidikan

Manajemen Sistem Pembelajaran

Manajemen Iklim dan Budaya Sekolah

Pentignya Menjaga Lisan

Peran Guru dalam Pendidikan Karakter

Penilaian Hasil Belajar

Prilaku  yang Harus Di Miliki Oleh Seorang Guru

Globalisasi Pendidikan Di Indonesia

Konsep Dasar Penilaian Kelas

Menentukan Kebutuhan Pendidikan

Peran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan SDM 

Manajemen Organisasi

Pengertian Konflik Organisasi

Tujuan dan Fungsi Sumber Belajar

Pengertian Pusat Sumber Belajar

Peran Guru Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

Tugas Dan Tanggung Jawab Guru

Penilaian Terhadap Kinerja

Pentingnya Pendidikan Moral Di Sekolah

Kedisiplinan Dalam Organisasi

Kewenangan dan Tanggung Jawab Sekolah

Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah 

Konsep Manajemen Berbasis Sekolah

Peran Pengembang Kurikulum Sekolah

Peran Kepala Sekolah Dalam Manajemen Pembelajaran

Prinsip dasar Pengembangan Kurikulum

Dampak Positif dan Negatif Globalisasi

Manajemen Pengelolaan Kelas 

Perkembangan Kurikulum Di Indonesia

Pembangunan Ekonomi dan Ekonomi Pembangunan

Tenaga Pendidik dan Kepala Sekolah Yang Profesional

Globalisasi dan Perbenturan Antar Peradaban

Pengertian Teori Organisasi

Sekolah Sebagai Organisasi Pembelajar

Kemampuan Dasar yang Harus Dimiliki Organisasi Pembelajar

Prinsip Prinsip Learning Organization 

Karakteristik Organisasi Pembelajar

Apakah Belajar Itu

Pengertian Evluasi

Sistem Pendidikan Republik Kuba

Sistem Pendidikan Negara Belanda

Sistem Pendidikan Saudi Arabia

Pebedaan Administrasi dan Manajemen

Pengertian Administrasi

Makna dan Pendkatan Perencanaan

Sejarah Perencanaan Pendidikan

Pendekatan Sistem Dalam Perencanaan

Perubahan Masyarakat dan kegiatan Perencanaan

Jenis dan Pendekatan Perencanaan

Konsep dan Design Perencanaan Pendidikan

Perencanaan Pendidikan Tinggi

Perencanaan Pendidikan Vocational

Analisis Misi

Analisis Fungsi

Pengembangan Kemitraan Antara LPTK dengan Sekolah

Landasan Teoritis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Analisis Kebutuhan Pengembangan Kurikulum

Sejarah Terbentuknya Wartawan

Kamis, 27 April 2023

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran

(Koneksi Antarmateri) PGP A7

Oleh: Imas Siti Nurjanah


Filosofi Pratap Triloka khususnya ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Indonesia) berpandangan bahwa sebagai seorang guru harus memberikan tauladan atau contoh praktik baik kepada murid. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani.

Setiap guru seyogyanya memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar. Nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada dalam situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar.

Keputusan tepat yang diambil tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan dijalankan oleh kita. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik. Nilai-nilai positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid adalah manifestasi dari pengimplementasian kompetensi sosial emosional kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial dan keterampilan berelasi dalam mengambil keputusan secara berkesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang akan terjadi.

Pengambilan keputusan dapat berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Coaching adalah keterampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apabila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching, yaitu untuk melejitkan potensi murid/coachee agar menjadi lebih merdeka. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW. GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will. TIRTA merupakan akronim dari tujuan, identifikasi masalah, rencana aksi serta tanggung jawab.

Sebagai seorang pendidik, kita harus mampu menjembatani perbedaan minat dan gaya belajar murid di kelas sehingga dalam proses pembelajaran murid mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai profil belajar mereka masing-masing. Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan murid dapat terakomodir dengan baik. Kompetensi sosial dan emosional diperlukan agar guru dapat fokus memberikan pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar di kelas maupun di sekolah. 

Keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid dapat tercipta dari tangan pendidik yang mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi serta mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral. Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar ataupun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya merupakan nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak. Seperti yang kita ketahui bahwa nilai-nilai yang dianut oleh guru penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.

Pengambilan keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika dapat dicapai melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. 

Walaupun diakui selalu ada tantangan dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika di lingkungan sekitar. Kesulitan dan tantangan muncul karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun, seperti sistem di sekolah yang memaksa guru untuk memilih pilihan yang salah atau kurang tepat dan tidak berpihak kepada murid, tidak semua warga sekolah berkomitmen tinggi untuk menjalankan keputusan Bersama, keputusan yang diambil terkadang tanpa sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan pengambilan keputusan, dan lain-lain.

Keputusan yang diambil oleh seorang guru dapat mempengaruhi kegiatan pengajaran di kelas. Seorang guru haruslah berpihak pada murid, misalnya dalam pembelajaran, guru menggunakan metode pembelajaran, media dan sistem penilaian yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan belajar murid, maka hal ini akan dapat memerdekakan murid dalam belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Namun sebaliknya apabila keputusan tersebut tidak berpihak kepada murid, misalnya dalam hal metode, media, penilaian dan lain sebagainya maka kemerdekaan belajar murid sulit untuk dicapai dan tentunya murid tidak akan dapat berkembang sesuai potensi dan kondratnya. 

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan penghidupannya. 

Keputusan yang diambil oleh seorang guru akan menjadi ibarat pisau yang disatu sisi apabila digunakan dengan baik akan membawa kesuksesan dalam kehidupan murid di masa yang akan datang. Demikian sebaliknya apabila keputusan tersebut tidak diambil dengan bijaksana maka bisa jadi berdampak sangat buruk bagi masa depan murid-murid. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat, dilakukan pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid terlebih dahulu untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk. 

Jadi, kesimplannya yaitu: 

  • Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.
  • Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).
  • Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila.

Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak permasalahan-permasalahan baik berupa kasus dilema etika maupun bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar. Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan di mana kedua pilihan tersebut secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah.

Dari pengalaman selama kita bekerja pada institusi pendidikan, kita telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu.

Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup.

pada situasi tersebut dilema etika bisa dikategorikan seperti di bawah ini:

  • Individu lawan masyarakat (individual vs community), dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya.
  • Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian terhadap hal tertentu juga merupakan tindakan yang dianggap benar.
  • Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Terkadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
  • Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term), paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang.

Terdapat 3 prinsip dalam pengambilan keputusan yang perlu kita cermati agar resiko dari keputusan yang diambil sangat kecil.

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), prinsip ini berpijak pada aliran ulitarianism, yaitu mengerjakan apa yang dapat menghasilkan kebaikan terbesar untuk jumlah orang terbanyak.
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), prinsip ini berpijak dari filsafat, yaitu deontologis, dari bahasa yunani “deon” yang berarti tugas atau kewajiban.
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking), memutuskan sesuatu dengan pemikiran, apa yang anda harapkan orang lain lakukan terhadap anda.

Adapun langkah-langkah dalam pengambilan keputusan yang dapat kita lakukan, yaitu melalui tahapan sebagai berikut: 

  1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
  4. Pengujian benar atau salah
  5. Pengujian paradigma benar lawan benar
  6. Melakukan prinsip resolusi
  7. Investigasi opsi trilema
  8. Buat keputusan
  9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan

Sebelum mengetahuinya, saya pernah menerapkan pengambilan keputusan dalam situasi moral dilema. Perbedaanya pada saat itu saya tidak mengetahui apakah kasus yang terjadi pada saya ini termasuk dilema etika ataukah bujukan moral, Sayapun belum mengetahui paradigma dan prinsip apa yang saya gunakan pada saat itu serta bagaimana langkah-langkah yang benar pada saat pengambilan keputusan, namun sekarang saya mampu membedakan setiap kasus yang saya hadapi apakah termasuk dilema etika ataukah bujukan moral. Selanjutnya saya mengetahui paradigma apa yang terjadi pada kasus saya, sehingga saya mampu menggunakan prinsip serta langkah-langkah pengambilan keputusan yang tepat.

Menurut saya sangat penting mempelajari materi ini karena dapat membantu kita dalam mempraktekkan pengambilan keputusan yang benar. Selain itu kita juga dapat mengidentifikasi setiap kasus yang terjadi sehingga mampu menemukan solusi yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Semoga apa yang saya bagikan menjadi pengetahuan dan inspirasi bagi rekan yang lain khususnya guru, agar pendidikan di Indonesia semakin maju. Terima kasih. 

Selamat Datang di Website Imas Siti Nurjanah " Pendidikan, Kepramukaan, Materi SMP/MTS, Perangkat Pembelajaran" Kunjungi Youtube kami di Https://bit.ly/YT-ImasSN